Ngopcan Beautiesquad : Mitos dan Fakta Skincare

posted in: SKIN DEEP | 1

Selama ini kalau bicara soal produk perawatan wajah, aku kurang bisa memahami banget. Pertama, selain karena gak tahu harus kemana, aku juga bingung keyword-nya. Jadi ya udah aja ilmunya ga nambah-nambah. Hehehe. Kebetulan belum lama ini komunitas Beautiesquad mengadakan Ngopi Cantik di group What’sApp  tentang skincare yang pematerinya adalah Azzahra R. Kamila atau akrab dipanggil Mia.

Mia ini seneng banget berbagi ilmu tentang skincare, terutama di Instagram stories dia. Macem-macem yang dia bahas, mulai dari pertanyaan remeh temeh maupun yang kudu mikir 7 hari 7 malam. Selain itu, Mia punya blog juga beralamat insommia.net yang lebih memfokuskan pembahasan di bidang komposisi produk.

Awalnya Mia tertarik untuk mempelajari kandungan dalam produk perawatan kulit karena Mia menderita mild seborrheic dermatitis. Dari hasil baca-baca inilah yang bikin Mia makin ingin mengenal lebih jauh tentang komposisi sebuah produk. Oleh karenanya, Mia hadir di Ngopcan sebagai pemateri dan membahas Mitos dan Fakta seputar produk perawatan wajah.

1. Tidak Semua Produk Natural itu AMAN

Nah lho! Selama ini kalau sedang terlibat obrolan dengan teman-teman di luar lingkup beauty blogger, banyak juga yang bertanya: “apa merek kosmetik yang aman untuk digunakan?”; selain itu, pasti ditambahkan embel-embel “kalau bisa yang natural-natural aja lah, udah jelas pasti aman!”

Ternyata menurut Mia, kosmetik dengan bahan dasar natural (yang diproduksi oleh alam) tidak semuanya aman digunakan lho! Adapun kosmetik yang berbahan-bahan buatan kimia juga belum tentu tidak baik bagi kesehatan. Tak bisa dipungkiri, sebenernya kita pun sedang dibodohi oleh pemasaran produk. Namun sebetulnya ada satu hal yang memang bikin aku geli: apakah produk natural itu tidak sama sekali kimiawi? Well, ini pemikiran aku aja sih. Semua hal yang ada di dalam dunia ini pasti memiliki nama ilmiahnya. Nama ilmiah ini adalah sebuah bahasa universal yang digunakan oleh bidang-bidang tertentu dengan maksud tertentu. Misalnya ada penelitian sederhana dengan menggunakan bahan air dan garam. Air memiliki bahasa kimia H2O sedangkan NaCL adalah bahasa kimia untuk garam. Kalau dalam penelitian ya bahasa yang digunakan pasti H2O dan NaCL donk? Masa iya kita nulis di laporan pakai bahasa “air dan garam”? Memangnya kita lagi nulis resep buat masak, bu? Wakakakakak.

Untuk beberapa bahan, yang bersifat natural justru malah sama sekali tidak aman jika digunakan ke dalam produk perawatan wajah. Seperti contoh Titanium Dioxide dan Zinc Oxide. Kedua bahan ini merupakan bahan yang digunakan ke dalam sebuah produk sun screen. Kandungan ini termasuk bahan natural yang bisa ditemui di alam. Namun ternyata, penggunaannya pada manusia justru merupakan zat karsinogen. Akhirnya aku coba-coba cari tahu kan tentang si Titanium Dioxide ini. Well yes, memang bahan natural ini  sering dijumpai. Kalau temen-temen rajin menggunakan sun screen product pasti hafal dengan nama ini.

Menurut Mia, Titatium Dioxide yang berwujud alami adalah komposisi yang berbahaya bagi kulit karena itu kategori racun. Untuk itu, kandungan Titanium Dioxide yang dijumpai pada produk perawatan wajah saat ini justru yang bersifat sintetis atau buatan. Bukan yang berasal dari alam!

2. Ternyata Paraben itu Aman

Ini adalah salah satu isu yang termasuk kenceng banget. Aku pun juga pernah termakan oleh isu ini pas aku lagi hamil, sampai rela gak mau pakai produk perawatan wajah karena produk-produk tersebut banyak yang mengandung paraben. Padahal ya ternyata, isu yang bikin salah kaprah ini sebetulnya berawal dari media yang menggembar-gemborkan bahwa paraben adalah reseptor estrogen yang bisa mempengaruhi hormon wanita. Kemudian, estrogen ini dikait-kaitkan dengan penelitian payudara dimana ditemukan kandungan paraben di dalam jaringan payudara. Padahal kalau mau dianalogikan, paraben tersebut itu ibarat segenggam pasir di gurun Sahara: dikit banget!

Lalu aku jadi menyesal pas hamil kemarin itu tidak menggunakan produk perawatan wajah. Hilang deh 9 bulan awet mudaku! LOL!

Akhirnya sekarang jadi tahu ya menteman kalau misalnya ditemukan ada kampanye soal “green beauty” yang mengangkat tema “no SLS, paraben and lanolin” jangan langsung percaya gitu aja. Soalnya Mia bilang itu pembodohan! Jadi jangan mau dibodohi lagi ya!

Ethylhexylglycerin, phenoxyethanol, dan DMDM Hyantoin adalah bahan pengawet untuk kosmetik dan perawatan kulit. Hingga saat ini, paraben merupakan bahan yang paling aman karena sudah ratusan tahun digunakan. Rasio alergi yang diakibatkan oleh paraben tergolong sangat kecil dibandingkan phenoxyethanol yang bahkan penggunaannya di beberapa negara sudah dilarang.

Ambang batas aman penggunaan paraben adalah 1% dari banyaknya produk skincare itu sendiri. Namun, normalnya hanya digunakan 0,1% – 0,2% saja.

Adanya tag line green beauty itu sebetulnya menggunakan prinsip ekonomi. Yah, balik lagi ganks, semua itu tentang market/jualan. Jadi dengan adanya demand tentang green beauty, ya produsen pun akhirnya membuat produk yang fokusnya ke situ.

3. Petrolatum Jelly Tidak Berbahaya

Ada anggapan kalau Petrolatum Jelly dan mineral oil itu berbahaya sebagai penyebab pori-pori tersumbat. Di sini, aku juga baru tahu kalau ternyata isu ini memang ada. Selama ini sih aku gak pernah mempermasalahkan penggunaan Petrolatum Jelly karena aku merasa sangat terbantu oleh produk tersebut. Tapi, ada anggapan bahwa Petrolatum Jelly dan mineral oil ini suka menyumbat pori.

Menurut Mia, anggapan tersebut ada karena disebut-sebut kalau Petrolatum Jelly dan mineral oil itu berasal dari Petroleum. Petroleum itu cairan yang ditemukan di bawah batu sedimen, biasanya dipake untuk bahan bakar mobil (bensin). Tapi Petrolatum Jelly dan mineral oil yang ada pada produk perawatan wajah itu hasil distilasi. Petrolatum Jelly dan mineral oil tidak akan mengakibatkan pori-pori tersumbat dan aman digunakan jika hasil purifikasinya yang terbaik. Namun, jikalau teman-teman menggunakan Petrolatum Jelly dan mineral oil lalu terjadi pori-pori tersumbat, ada 2 hal yang harus dicek yaitu bisa saja memang pori-pori sudah tersumbat terlebih dulu tapi teman-teman tidak menyadarinya dan bisa juga memang produk tersebut menggunakan produk dengan proses purifikasi yang kurang bagus (atau yang versi murahnya untuk menekan biaya produksi). Sehingga, misalkan teman-teman menemui sebuah produk yang tidak bekerja di kulit teman-teman, jangan langsung menhakimi bahwa produk tersebut tidaklah bagus.

4. Gold dan Collagen adalah Anti-Aging Agent? Benarkah?

Sekarang kita hidup di masa yang menganggap bahwa emas dan kolagen adalah bahan anti penuaan. Awalnya, aku sempat berpikiran untuk bisa ikut kekinian meski ragu-ragu juga sih. Jujur aja, aku baru beberapa kali mencoba produk yang mengandung kolagen, baik yang cara penggunaannya lewat konsumsi ataupun yang dioles ke atas kulit wajah. Mia broke my stigma! Dia bilang bahwa emas dan kolagen itu bukanlah bahan anti penuaan! Wow!

Menurut Mia, produk yang mengandung emas dan dikatakan sebagai anti penuaan itu sebetulnya hanya marketing gimmick. Tren ini datang ketika perkawinan antara produk perawatan wajah dan bahan metal dilakukan. Sejauh ini jika membicarakan soal kandungan metal dalam produk perawatan wajah, copper-peptide adalah bahan yang bisa dipercaya karena sudah banyak penelitian yang membahas copper-peptide sebagai bahan anti penuaan.

Kemudian untuk kolagen sendiri, ada istilahnya yaitu Hydrolized Collagen. Kolagen jenis ini sudah dipecah-pecah hingga menjadi molekul terkecil. Buat teman-teman yang ingin memulai lebih lanjut soal ini, ada baiknya mengerti sedikit tentang Dalton Rule, karena ini adalah pengukur yang bisa menentukan apakah sebuah bahan itu merupakan bahan perawatan wajah atau bahan untuk obat (drug). Gampangnya bisa diperhatikan kalau ukurannya di bawah 500 maka sifatnya adalah obat (drug), sedangkan jika di atas 500 maka sifatnya adalah skincare. Angka tersebut maksudnya adalah molecular weight, ya. Sebagai contoh, bahan Salicylic Acid ada di angka seratusan maka sifatnya adalah obat jadi tidak bisa digunakan oleh ibu hamil karena bisa menembus hingga pori terdalam memungkinkan untuk eksfoliasi kulit. Sementara Kolagen itu molecular weight -nya bisa ribuan hingga puluah ribu sehingga sifatnya adalah skincare.

Bicara tentang bahan anti penuaan, sebetulnya Retinol itu bisa dianggap sebagai bahan anti penuaan. Molecular weight Retinol itu ada pada sekitar 200-an. Jadi bisa dibilang anti penuaan karena bisa menembus kulit.

TIPS MEMILIH SKINCARE ALA MIA

Ketahui kondisi kulit. Kulit manusia kan macam-macam ya. Meski sama-sama memiliki jenis kulit wajah tertentu, tapi pasti ada juga gak samanya. Apalagi tingkat sensitivitasnya. Ini yang harus diketahui ya temen-temen. Soalnya, Mia sendiri kan menggunakan produk AHA setiap hari, dan karena kulit wajahnya bisa mentolerir jadinya tidak ada reaksi aneh-aneh. Aku juga punya contoh terdekat kaya misalnya aku cocok dengan menggunakan krim berbahan retinol, tapi temanku ada yang gak bisa pakai karena menurut dia rasanya sedikit perih. Jadi pemilihan produk jangan cuma asal ikut-ikutan teman ya!

Memahami komposisi produk yang digunakan. Ini emang sangat amat jadi pekerjaan sendiri ya. Hidup udah ribet sis, tapi lebih ribet lagi kalau ada masalah yang timbul karena malas baca. Mumpung masih ada waktu, kita coba bacanya pelan-pelan, dimulai dari yang paling sering kita baca dan bikin penasaran aja.

Memilih produk ANIMAL CRUELTY-FREE. Sebetulnya, produk anti kekejaman pada binatang ini ternyata dipilih Mia bukan tanpa alasan. Sebagian besar pabrik kosmetik mendunia ada di China. As we know, kayaknya apapun bisa dibikin di China, kan? Selain itu, biaya produksi di China lebih terjangkau sehingga para perusahaan pun berbondong-bondong bikin produk di sana untuk bisa menekan biaya produksi. Di China itu sendiri, percobaan kosmetik terhadap binatang merupakan hal yang masih lumrah terjadi. Pemerintah China memang menerapkannya seperti itu sehingga itu dianggap legal di mata hukum China. Alasan Mia memilih produk yang animal cruelty-free karena Mia punya concern terhadap produk yang dipalsukan. Bahkan sudah sering ditemukan produk palsu tersebut secara kemasan terlihat tidak berbeda dengan yang asli. Mia yakin kalau di dalam e-commerce pun pasti ada saja yang menjual produk palsu. Oleh karena di China masih menganut percobaan terhadap binatang dalam produksi kosmetik, asumsi aku akses ke arah pemalsuan produk kosmetik pasti lebih gampang. Jadi daripada sudah kadung suka dengan salah satu produk yang masih mengusung percobaan terhadap binatang, mendingan langsung saja beralih ke produk yang memang animal cruelty-free.

OK, cukup sekian yah hasil ngobrol bareng di acara Ngopi Cantik dengan Beautiesquad. Semoga teman-teman pembaca bisa memetik ilmunya dengan baik.

Ngopi Cantik Bareng Beautiesquad dan Azzahra R. Kamila

Leave a Reply