Beauty Lyfe

Nail Art Course: My Experience & Story Behind

Berkecimpung di dunia kecantikan memang bikin ketagihan. Hahaha. Ya, basically anything that you love to do is addictive for your life. Kalau mau flashback sedikit, diingat-ingat gw memang udah suka dandan sejak SD karena kedua orang tua gw adalah orang tua yang bekerja maka role model gw tentang make up saat itu adalah nyokap gw.

Setiap pagi selalu bangun lebih pagi di antara gw dan bokap gw. Selain untuk menyiapkan sarapan juga untuk menyediakan waktu untuk berdandan sebelum akhirnya kami semua berangkat menuju pusat kegiatan kami masing-masing. Selain kosmetik, nyokap gw memang suka pakai kutek dan ini hanya digunakan pada saat masa menstruasi atau pun hanya pada waktu-waktu tertentu yang lainnya. Otomatis gw juga kadang ke sekolah suka pakai kutek. Hahahaha.

Kutek itu adalah aksesoris kecantikan pertama yang suka gw beli hampir setiap bulan tanpa harus dipertanyakan oleh kedua orang tua gw. Lagijuga, gw ga gitu mengenal yang namanya make up selain lipstik warna merah yang ada di vanity desk nyokap gw. Paling pakai lip balm aja sih itu juga karena memang bibir gw suka kering. Gw inget waktu kecil memang nyokap suka ngebeliin gw kutek merk Tammia di Matahari yang ukurannya kecil-kecil. Mungkin cuma 5ml dan harganya juga murah, hanya sekitar Rp3,000-an aja saat itu (tahun 1990-an). Bahkan lebih murah dari komik yang uang untuk membelinya gw bela-belain tabung berhari-hari sebelumnya.

Beranjak dewasa gw juga suka pakai kutek. Tapi belinya masih yang dalam tahap murah-murah gitu. Ya kan ga sering dipakai juga, malah kalau bisa belinya yang ukuran kecil-kecil aja biar ga berlomba dengan tanggal kadaluarsa. Hehehe. Nah, belum lama ini, gw baru saja menyelesaikan kursus Basic Nail Art nih. Duh, sebenernya keinginan kursus ini sedikit out of the blue loh!

Ceritanya gw suntuk banget dengan dunia make up dan merasa gw harus berkembang karena di make up kok ya gitu-gitu aja jadinya. Lalu, gw mencari sesuatu yang baru yang belum pernah gw explore namun sangat dekat dengan kehidupan gw. Akhirnya menemukan bahwa dengan menjadi nailist mungkin bisa jadi salah satu cara untuk gw mengembangkan diri. Di tambah gw melihat teman-teman lain yang masih dalam satu lingkungan gw juga, mereka itu bisa melakukan seni lainnya daripada hanya make up. Contohnya Hani yang memang menyukai henna, lalu ada ci Irene dan Esy yang mengembangkan kemampuan face paint dan special effect make up dan Nindy yang saat ini lagi mendalami dunia seni hand-lettering. Jadi gw termotivasi untuk belok ke bidang lain selain make up.

Sewaktu gw akhirnya memilih ingin memperdalam seni kuku, gw sibuk berdiskusi dengan suami. Entah mengapa, keinginan gw untuk kursus di bidang kuku ini dapat dukungan penuh dari suami. Padahal, sewaktu gw mengajukan “proposal” ke suami tentang kursus make up, sampai sekarang belum disetujui loh! Sedangkan di bidang make up itu sendiri, gw sudah menjalaninya sekitar 2 tahunan untuk menjadi profesi dan menghasilkan uang. Itu semua gw lakukan tanpa mengenal arti kata “kursus” dan hanya berdasarkan dengan basic trial & error, banyak nonton Youtube channel, serta berkumpul dengan dan menjadi asisten make up artist. Bisa dibilang, gw belajar sambil berlatih sehingga improvement-nya sangat terasa sekali jika gw bandingkan antara hasil make up gw terdahulu dengan hasil make up gw yang sekarang.

Namun berbeda dengan seni kuku. Di lingkungan gw, ga ada seniman kuku yang bisa gw jadikan role model. Gw sama sekali clueless dengan hal-hal yang berbau seni kuku. Gw pun hanya mengetahui bahwa seni kuku itu meliputi kutek, stamping tool dan dotting tool. Ya, karena memang hanya itu saja yang pernah gw coba dalam kehidupan gw dalam menghias kuku.

Setelah mantap akan mengambil kursus di bidang seni kuku ini, alhamdulillah, suami pun diberi rejeki untuk menyokong gw sepenuhnya dalam kursus ini. Mulailah gw mencari tempat-tempat yang sekiranya menyediakan nail academy. Dimulai sebuah nail academy yang ada di Senayan Trade Center, kemudian dapat info dari pencarian di Instagram bahwa seorang nail artist yang berasal dari Surabaya sedang mengadakan kursus di Jakarta, lalu ada juga nail salon yang dimiliki oleh istrinya seorang artis film yang ternyata pas gw tanya lagi gak buka nail academy, dan yang terakhir gw dapat info dari hasil pencarian di Instagram juga kalau ada yang menyediakan private course dengan waktu yang fleksibel.

Setelah gw membandingkan beberapa tempat kursus seni kuku ini, akhirnya gw dan suami sepakat untuk mengambil kursus di Jeanne Shinta Nail Academy. Pertimbangan gw adalah, materi yang dia sediakan lumayan banyak untuk satu tingkatan kursus dan tingkatan kursusnya tidak dibagi terlalu banyak (yang malah jadi bikin gw makin bingung milihnya). Lalu dilihat dari segi biaya kursus pun, masih dibilang terjangkau dibandingkan dengan yang lain. Hal yang paling gw juga pertimbangkan adalah fleksibilitas waktu kursusnya. Gw juga sempat baca testiomni seseorang yang telah kursus di Jeanne Shinta Nail Academy kalau dia habis kursus di sana dengan waktu yang santai dan ga diburu-buru. Jadi gw merasa cocok aja sih. Soalnya kan ga enak kalau kursus yang kesannya buru-buru pengen cepet selesai.

Beberapa hari kemudian gw langsung hubungi Shinta, sang trainer, dan tanya-tanya. Termasuk welcome kok dan kalau dilihat sekilas juga sudah kelihatan kalau Shinta ini pasti lebih muda dari gw. Wkwkwkwk. Ya ga papa jugalah! Orang kan bisa belajar dari mana saja dan dari siapa saja. It doesn’t matter anyway. Habis itu langsung bikin janji ketemuan di lokasi dia dimana itu yang bakal jadi tempat les gw.

Hari janjian telah tiba, dan gw pun ke studio dia yang mana ternyata selain membuka nail academy, dia juga membuka nail service bagi yang ingin mempercantik kukunya. Kalau misal mau coba-coba secara personal di rumah, dia juga menjual segala perlengkapan untuk nail art karena ternyata dia juga adalah nail art supplier. Lokasinya cukup strategis sih, bisa dibilang sebelahan banget sama Central Park Mall. Kebetulan juga kan suami gw sering banget ke kantor customernya di dekat Central Park ini juga jadi udah lumayan hapal beberapa lokasi-lokasinya, termasuk lokasi studionya Shinta.

Setelah ngobrol-ngobrol lumayan lama tentang paket kursus serta produk apa saja yang akan gw dapatkan ketika kursus, materinya dan sebagainya, akhirnya gw DP untuk menentukan hari. Niatnya sih mau weekend aja, tapi ternyata ada satu hari weekend yang Shinta ga bisa, jadi dia menyarankan untuk mengalihkan di salah satu hari kerja yaitu Jumat dan gw pun menyetujuinya.

Tibalah hari dimana gw kursus. Untuk paket kursus yang gw ambil, karena gw hanya mengambil basic, menurut jadwal sih hanya disediakan 9 jam kursus sudah termasuk 1 jam ujian. Namun pada hari pertama kedatangan gw saja sudah memakan waktu lebih dari 8 jam karena pemula banget macam gw ini kudu diajarin dari pre-beginner kayaknya. Hahaha. Beruntung anaknya sih asik walau gw juga ga gitu banyak ngomong karena namanya juga baru kenal. Hehehe. Sewaktu ngobrol, yampun gw kaget banget kalau Shinta ini usianya masih 21 tahun bok! Menurut gw agak gila! Hahaha, apalagi dia ternyata baru saja lulus sebagai sarjana teknik industri. Makin gak nyambung ye kan? Salut gw lah sama anak muda kreatif macem gini, bisa mengembangkan diri dan didukung penuh otak kanannya, juga oleh keluarganya. Anaknya juga sangat mandiri. Secara yang namanya teknik itu kan pakai otak kiri banget! Udah gitu, murid lulusan dari Jeanne Shinta Nail Academy ini ternyata uda banyak loh!

Anyway, selama kursus gw juga baru tahu kalau ternyata yang namanya kutek itu terbagi atas 2 jenis yaitu regular polish dan gel polish. Gw pikir selama ini tuh yang namanya kutek hanya satu jenis aja, ya macem yang biasa gw beli di pasaran gitu deh. Uniknya, kalau menggunakan gel polish itu lebih bisa berkreasi melukis kuku karena gel polish tidak akan kering jika tidak menggunakan phototherapy alias dikeringin pakai lampu UV/LED. Waw banget! Lebay ya? Iyalah namanya juga gw ga tau sama sekali. Hahahaha. Berbeda dengan regular polish yang bisa kering bahkan hanya dengan udara ruangan sekalipun. Pantesan aja setiap kali gw mau berkreasi dengan menggunakan regular polish, hasilnya belang bentong gitu. Lo bisa cek deh hasil NAIL ART PERTAMA gw ini. Klik aja linknya! Hari pertama kursus diakhiri dengan puyeng. Ya gimana ga puyeng, gw menghabiskan 12 jam menghadapi kuku dan melukis di media yang mungkin hanya seluas 1×1 cm itu, bahkan kurang.

Hari kedua gw kursus udah agak lebih santai meskipun desain yang gw pelajari lebih susah karena stroke-nya sudah meliuk-liuk, bukan garis lurus lagi. Terus gw juga banyak nanya sama Shinta sih terutama tentang gimana misalnya kalau gw mau langsung mengkomersilkan kemampuan baru gw ini sebagai nail artist. Banyak kasih saran juga dan rekomendasi produk serta online shop misalkan ada yang ga Shinta jual di toko onlinenya. Sewaktu ujian, materi yang harus diperhatikan adalah manikur dasar serta cara pengaplikasian gel polish. Kebetulan gw ga ada teman yang available untuk dijadikan hand model. Jadi hand model yang diberikan oleh Shinta pun adalah muridnya dia juga yang sudah lulus dan bersedia untuk menjadi hand model. Oia, sewaktu gw lagi kursus pun, ada juga yang ambil kelas di satu waktu yang sama dengan gw. Jadi lumayan rame ruangannya. Sewaktu ujian, gw masih takut untuk melakukan manikur karena gw takut menyakiti orang. Hahaha. Jadi gw manikurnya lama banget. Syukurlah si sesembaknya sabar banget yes. LOL. Selama gw ujian manikur, yang jadi hand model gw ini juga seorang nailist yang sudah 4 tahun berprofesi di Australia jadi selama gw manikur tangan dia, dia juga memberikan gw tips and trick untuk menjadi seorang nailist yang baik seperti apa. Wah, ilmu lagi bagi gw nih. Baik-baik banget sih lo orang pada… Terharu eike!

Kursus pun berakhir sekitar jam 8 padahal gw mulai kursus sekitar jam 11 atau 12 siang. Artinya sudah hampir 20 jam total gw kursus dengan Shinta. Ternyata benar apa yang gw baca di testimoni yang ada di Instagram itu, Shinta ngajarinnya ga telalu mematok jam meskipun sudah ada program belajarnya, jadi diajarin sampe bisa dan kita sebagai murid juga ga ngebul binti mimisan banget terima materinya. Hahaha.

Well, yess! Akhirnya selesai juga gw kursus seni lukis kuku dasar ini. Doain yess ganks supaya gw bisa diberi kesempatan waktu dan rejeki untuk bisa meneruskan kursus di tingkat selanjutnya. Soalnya gw penasaran banget untuk bisa bikin nail extension. Anyway, jangan lupa yah buat kalian yang menginginkan kuku palsu unyu-unyu bisa menghubungi gw dengan melihat ke akun Instagram : @fianailwitch. Sekalian juga di-follow yaaa..

See you on my next post!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *