HAPPY EARTH DAY!!

posted in: Uncategorized | 0

Happy Earth Day,

Didcha know? 22 April kita memperingati “Earth Day”. Well, yes, nobody knows earth’s exact birthday but there’s so much we have to be thankful for on it’s special day.

Bumi kita ini sudah tua ternyata, terbukti dari hasil penelitian yang menemukan sebuah mineral tertua di muka bumi ini yang berusia hampir 5 milyar tahun. Let’s say, mineral tersebut sebagai acuan tua-nya si Mother Earth ini ya. Capek juga ternyata kalau mesti tiupin lilin satu per satu. Hehehe.

Earth Day on April 22th
Earth Day on April 22th

Kali ini aku ingin sekali mengajak kalian untuk lebih peduli lingkungan. Jangan melulu yang diurusin muka sama body sendiri ya. Hehehe, ada waktunya kita menengok ke sekeliling kita untuk membuat bumi menjadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali. Banyak issue pengrusakan bumi yang sudah tersebar dari tahun-tahun sebelumnya. Hingga akibat yang kita rasakan saat ini adalah global warming serta bencana-bencana alam yang mengikutinya.

Sebenernya, kenapa ya Hari Bumi dirayakan setiap tanggal 22 April? Jadi sejarahnya, pada tahun 1970, seorang senator AS bernama Gaylord Nelson menggagas Hari Bumi dirayakan pada 22 April. Awalnya Pak Nelson ini menyadari banyaknya permasalahan lingkungan dan sedikit orang yang peduli akan hal ini. Jadi, Pak Nelson berniat mencari sebuah momen yang pas untuk menarik perhatian semua orang yang peduli terhadap isu-isu lingkungan. Meski begitu, usaha memperingati Hari Bumi ini memakan waktu selama 7 tahun untuk disosialisasikan kepada seluruh penduduk dengan berbagai jenjang. Nah, hasilnya sekitar 20 juta penduduk AS mulai saat itu berkomitmen untuk lebih menjaga lingkungan. Dari sinilah ide Hari Bumi kemudian diadopsi di seluruh dunia.

Earth Day for a Better Living
Earth Day for a Better Living

LACAK JEJAK

Kalau selama milyaran tahun ini bumi sudah merawat kita, ada baiknya donk kalau kita juga gantian merawat bumi? Hal ini semata karena ini lah satu-satunya planet tempat kita tinggal, maka jadikanlah bumi agar tetap sehat dan layak huni. Cara paling mudah adalah mempertanyakan dan melacak dampak dari setiap kegiatan kita bagi lingkungan. Konsep ini dikenal dengan nama Ecological Footprint. Ada dua jenis footprint, yaitu Water Footprint dan Carbon Footprint.

1. WATER FOOTPRINT / JEJAK AIR

Jejak air ini merupakan perhitungan rata-rata jumlah air yang terpakai pada saat memproduksi sebuah benda yang kita gunakan atau konsumsi. Mulai dari makanan, pakaian, alat-alat elektronik, dll. Beberapa produk lebih boros air daripada produk yang lain sehingga kita bisa memilih mana yang lebih ramah dampaknya bagi lingkungan dan bagi kita manusia. Apa yang terbaik buat kita bukan berarti itu juga baik bagi bumi, namun apa yang terbaik bagi bumi pasti suatu saat akan mendukung kita di kemudian hari.

Just So You Know

– Secangkir kopi setara dengan 140 liter air. Didapat dari perhitungan air yang digunakan untuk merawat pohon kopi, mencuci dan membilas biji kopi hingga bersih, diseduh sampai disajikan di depan kita untuk dinikmati.

– Rata-rata sekitar 300 liter air yang diperlukan untuk membuat selembar roti yang siap dimakan.

– Ternyata, untuk bisa membuat 1 liter susu, dibutuhkan sekitar 1000 liter air, lho!

– Setangkup hamburger setara dengan 2400 liter air.

– Sekitar 3900 liter air diperlukan untuk menyajikan 1 kg daging ayam sampai ke piring kita.

– Dalam proses produksinya, butuh 5000 liter air untuk bisa membuat keju.

– Suka daging sapi? Well, 1 kg saja membutuhkan sekitar 15,500 liter air untuk bisa sampai ke dapur nyokap!

2. CARBON FOOTPRINT / JEJAK KARBON

Jejak karbon adalah jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan oleh pribadi atau kelompok dalam melakukan kegiatannya per periode tertentu. Jejak karbon dinyatakan dalam satuan ton setara CO2 (tCO2e) atau kg setara CO2 (kgCO2e), hal ini karena gas rumah kaca bukan hanya karbon dioksida (CO2) dan dampaknya terhadap pemanasan global pun berbeda-beda.

Nah, beberapa aktivitas kita juga ternyata memberikan kontribusi terhadap percepatan kenaikan emisi gas rumah kaca lho! Contohnya adalah dengan menggunakan kendaraan pribadi terutama mobil dibandingkan dengan kendaraan umum, perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang, penggunaan AC ataupun pemanas ruangan, penggunaan alat elektronik pribadi dan perangkat hiburan lainnya. Hal-hal inilah yang tanpa kita sadari memberikan “sumbangsih” besar terhadap pemanasan global.

Beberapa tipe jejak karbon yang dikenal selama ini :

Jejak Karbon Individu (+ keluarga)
Jejak Karbon Organisasi
Jejak Karbon Kegiatan
Jejak Karbon Produk

____

Mungkin ada baiknya bagi kita untuk bisa selalu menghitung jejak karbon yang kita tinggalkan demi mengurangi dampak dari emisi gas rumah kaca. Hal ini juga demi menjaga kelestarian lingkungan untuk genenerasi kita selanjutnya. Sebetulnya juga gampang kok caranya, dimulailah dari membuang sampah pada tempatnya (ini melatih kedisiplinan kita juga!), menggunakan barang-barang yang bisa didaur ulang ataupun digunakan kembali (say no to Styrofoam ataupun plastik yang tak bisa didaur ulang), lebih memilih sering menggunakan kendaraan umum (kalau ini bisa plus-plus efeknya: mengurangi macet dan mengurangi polusi).

Kita ga usah terlalu banyak kompromi atau menunggu orang lain dahulu. Peduli lingkungan juga ga mesti wah atau yang gimana-gimana. Alhamdulillah, walau masih tergolong kecil, aku sudah mulai dengan membuang sampah pada tempatnya, menggunakan peralatan makan dan minum yang bisa digunakan kembali (mengurangi Styrofoam, plastik, dan kertas), membawa tas belanja sendiri ketika shopping (mengurangi plastik), matikan peralatan listrik jika tak terpakai dan semua lampu di rumah ketika tidur. Cukup tanya dalam hati kita, apa kita masih merasa nyaman dengan keadaan sekarang? Jujur aja, aku pribadi ga lho. Apalagi dengan keadaan cuaca dan iklim yang tidak menentu. Secara kesehatan pun akan jadi lebih terganggu. Kalau sudah begini, kita mau menyalahkan siapa?

MAKE EVERYDAY IS EARTH DAY, HAPPY EARTH DAY!

XOXO~~

(all pics are copyrighted by the respective owner, please click the pics for the source)

Leave a Reply